Dirlantas Polda Jatim Sebut Tingginya Laka Lantas Akibat Kurangnya Kultur Berkendara Yang Baik

oleh -

sergap TKP – SURABAYA

Direktur Lalu Lintas Polda Jatim Kombes Pol Budi Indra Dermawan menyebut tingginya angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Jatim sebagai bukti bahwa kultur berkendara yang baik dan benar masih kurang di masyarakat.

“Karena dekat, maka tidak pakai helm. Jalan sepi, maka ngebut. Kultur semacam ini banyak terjadi di Indonesia. Maka perlu diubah dengan cara proses penegakan hukum agar memberikan efek jera bagi para pelanggar,” kata Kombes Budi Indra, Rabu (23/10/2019).

Penerima penghargaan dari Presiden Joko Widodo berupa “Bintang Bhayangkara Nararya” tersebut juga mengungkapkan bahwa penengakan hukum berupa tilang yang dilakukan pihaknya tidak semata-mata untuk menakuti masyarakat.

“Penegakan hukum dengan cara tilang, ini sebagai peringatan agar berhati-hati di jalan raya dan mengurangi risiko fatalitas kecelakaan saat berkendara,” ujar pria kelahiran 14 Oktober 1970 tersebut.

Almamater Akpol 1992 tersebut menjelaskan  selain upaya penegakan hukum berupa tilang pihaknya juga tetap menggunakan upaya preventif melalui sosialisasi tertib berlalulintas.

Bahkan terhitung mulai hari ini (23/10) pihak Ditlantas Polda Jatim menggelar operasi lalu lintas dengan sandi terpusat Zebra Semeru yang bakal mengedepankan penegakan hukum (tilang).

Tidak hanya itu Ditlantas Polda Jatim juga telah menggunakan speed gun (alat pengukur kecepatan) yang telah dioperasionalkan di jalan tol. “Penindakan menggunakan speed gun ini berdampak positif. Jika biasa kecepatan tinggi di jalan tol, sekarang sudah berkurang,” ujar Bapak tiga anak tersebut.

Sebab dalam beberapa kasus di Jalan Tol, umumnya jika tidak dalam kecepatan tinggi resiko fatalitas bagi koban juga berkurang.

“Ada dua kali kecelakaan di tol. Karena tidak kecepatan tinggi, maka korban pun selamat dan tidak ada yang meninggal dunia,” jelas Budi Indra.

Perwira menengah dengan tiga melati di pundak tersebut mengungkapkan bahwa saat ini, penerapan penggunaan speed gun dilakukan selama 24 jam di pelbagai titik di sepanjang ruas jalan tol. 

“Lokasi di mana saja, tergantung petugas di lapangan. Dimana saja, kapan saja baik pagi, siang, malam, tidak ada titik khusus. Jadi kalau tidak mau ditilang, jangan ngebut di tol,” tegasnya.

Pria kelahiran Semarang tersebut menyebut tilang dengan bukti rekaman CCTV akan segera diberlakukan dalam waktu dekat di Jawa Timur. “Untuk penggunaan CCTV akan segera diberlakukan,” jelasnya.

Bukti rekaman CCTV sebagai tilang tersebut nantinya akan diintegrasikan dengan Smart SIM (Surat Izin Mengemudi Pintar) yang secara resmi telah diluncurkan pada 22 September 2019. Pelanggar dalam hal ini bakal dikenakan sanksi berupa poin.

“Setiap kena tilang maka poin di Smart SIM akan berkurang. Sampai batasan tertentu, jika banyak tilang yang diterima maka SIM bisa dicabut atau bisa tidak berlaku,” tegas Budi.

Untuk itu pihaknya berharap masyarakat bisa lebih tertib dengan mematuhi peraturan lalu lintas dan melengkapi surat kendaraan. “Jangan sampai sering ditilang dan SIM dicabut baru menyesal,” tutupnya. 

Tinggalkan Balasan