Karo SDM Polda Jatim : Peka, Responsif, dan Komunikatif

oleh -

sergap TKP – SURABAYA

Hampir 7 bulan, Kombes Pol H. Nazirwan Adji Wibowo, S.I.K., M.SI. menjabat sebagai Kepala Biro Sumber Daya Manusia (Karo SDM) Polda Jawa Timur (Jatim), selama itu ia mengaku banyak polisi yang ingin berdinas di Polda Jatim dan jajaran.

“Banyak sekali polisi yang ingin dinas di Jawa Timur. Semua ada di Jawa Timur. Mau apa saja ada, maka ini menjadi tantangan bagi Biro SDM Polda Jatim, karena tidak semua bisa masuk di Jatim,” ungkapnya saat ditemui di kantornya, Selasa (23/10).

Bahkan pria yang menjadi ranking tujuh lulusan terbaik Akpol angkatan 1994 ini juga dulunya telah memilih berdinas di Jatim tepatnya pada 1995 sebagai serse di Polres Tuban jajaran Polda Jatim. 

Kombes Nazirwan menyebut ada tiga hal penting yang menjadi prinsip utama dan ia jalankan selama menjabat sebagai Karo SDM sampai saat ini. “Ada tiga hal penting, yakni pertama kepekaan, kedua adalah responsif, dan ketiga adalah komunikatif,” jelasnya.

Nazirwan juga menyebut, selain dilengkapi segala fasilitas yang memadai dan posisi strategis, Jatim sendiri memiliki berbagai permasalahan yang beragam. Sehingga tiga prinsip tadi sangat diperlukan bagi polisi yang berdinas di provinsi seluas 47.922 km² tersebut.

“Yang terpenting adalah saat menjadi polisi di Jawa Timur harus amanah atas tugas dan tanggung jawab jabatan juga. Jika tidak maka tentunya akan sulit dapat menjalankan tugas dengan baik,” ujarnya.

Perwira polisi dengan tiga melati dipundak tersebut juga mengatakan, jika dibandingkan daerah lainnya, Jatim sendiri merupakan wilayah yang lebih luas dengan tantangan yang lebih besar dan beragam.

“Saya pernah tugas di Banten namun tidak terlalu sulit. Di Jogja juga pernah, masalahnya cukup kompleks. Namun dibandingkan dengan Jawa Timur, sangat berbeda. Di sini provinsi yang sangat luas dengan beragam persoalan yang harus dihadapi,” akunya.

Polda Jatim sendiri ditunjang oleh 30 ribu personel yang menurutnya sudah cukup untuk untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Sebab kondusifitas tidak selalu dipengaruhi oleh komposisi personel saja.

“Komposisi satu polisi dengan sekian jumlah masyarakat itu tidak bisa berbanding lurus dengan tingkat keamanan. Dengan kondusifitas wilayah Jatim saat ini, maka jumlah yang ada saat ini sudah cukup ideal,” jelasnya.

Selain itu mantan Karo SDM Polda DIY tersebut juga memiliki opini pribadi terkait sistem recruitment yang dilakukan oleh Mabes Polri dimana prosesnya merupakan salah satu yang terlama di dunia.

“Secara pribadi, saya berpikir proses seleksi penerimaan anggota polisi ini terlalu lama. Bahkan prosesnya terlama di dunia. Hal ini juga pernah saya sampaikan di Mabes Polri,” katanya.

Ia merasa kasihan kepada para taruna yang selama berbulan bulan menunggu kepastian nasibnya. “Bayangkan, penerimaan anggota dimulai sejak Maret namun hingga Agustus belum kelar. Penerimaan Taruna Akpol, Bintara dan Tamtama juga dilakukan bersamaan, sehingga menjadikan proses yang terlalu panjang,” ujarnya.

Namun demikian prosedur tersebut tetap harus dijalankan dengan profesional dan bertanggung jawab. “Semua kebijakan dari pusat, sehingga kami tetap memberikan yang terbaik sesuai prosedur,” tegas suami Noor Efrida tersebut.

Tinggalkan Balasan