Polres Sumenep, Ungkap Motif Kasus Pembunuhan

oleh -

sergap TKP – SUMENEP

Aparat Kepolisian Resort Sumenep berhasil mengungkap motif kasus pembunuhan wanita paruh baya yang terjadi di Karang Nangka, Raas, Sumenep, Madura.

Dari pengungkapan kasus tersebut, terungkap jika motif pembunuhan yang diduga dilakukan oleh pelaku atau otak pelaku pembunuhan karena dugaan santet.

Kapolres Sumenep AKBP Deddy Supriadi menjelaskan, Awalnya otak pelaku pembunuhan H. Muhdap mengidap penyakit aneh hingga perutnya membesar dan tak kunjung sembuh. Muhdap pun menuduh Suhriya yang mengirim santet ini padanya.

“Tersangka H. Muhdap mengira korban Hj. Suriye telah menyantet dirinya, karena sakit yang dialaminya pada bagian perut yang membesar tidak pernah sembuh,” kata AKBP Deddy Supriadi, Jumat (17/1/2020).

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Untuk menghabisi nyawa korban, Muhdap meminta bantuan temannya bernama Untung guna mencari pembunuh bayaran.

“Untung mengaku diminta H. Mudap mencarikan pembunuh bayaran, Untung pun menemukan dua orang yakni Mathora dan Sunahwi, Dan untuk melakukan pembunuhan pada Hj Suhriye mereka mengaku diberi imbalan sebesar Rp 10 juta rupiah,” ujar AKBP Deddy Supriadi.

Polisi akhirnya menangkap keduanya saat berada di rumahnya. Namun, kasus ini belum berakhir karena masih ada satu otak pembunuhan yang belum tertangkap, yakni H. Mudap.

“Lalu unit resmob menuju pulau Bali yang diduga menjadi tempat tinggal H. Mudap. Akhirnya pada tanggal 15 Januari 2020 sekira pukul 22.30 WITA, unit resmob menangkap H. Mudap di kediamannya,” terang AKBP Deddy Supriadi.

Selain mengamankan para pelaku, Dari pengungkapan kasus ini, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya berupa, sebuah kayu dengan panjang 40 cm dan diameter 5 cm, tali tampar warna biru, sepeda motor, dan uang tunai Rp 2 juta.

Atas perbuatannya, keempat pelaku saat ini terancam dijerat Pasal 340 KUHP Subs Pasal 351 Ayat (3) KUHP tentang Pembunuhan Berencana dan Penganiayaan hingga menyebabkan korban meninggal.

 “Ancaman hukumannya, minimal 20 tahun penjara hingga seumur hidup”. tegas AKBP Deddy Supriadi.

Tinggalkan Balasan