Polresta Cimahi Grebek Pabrik Rumahan Produksi Tembakau Sintetis

oleh -

sergap TKP – BANDUNG

Satuan Reserse Narkoba Polresta Cimahi menggerebek lokasi pabrik rumahan tempat produksi tembakau sintetis mengandung narkotika atau tembakau gorilla di kawasan Cibaduyut, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung, Senin (1/6/2020).

Dilokasi penggerebekan, selain mengamankan barang bukti berupa bahan pokok tembakau sintetis dan peralatannya, polisi juga mengamankan dua pria berinisial PS (20) dan DS (19).

Kapolresta Cimahi AKBP M Yoris Maulana mengatakan, Pengungkapan kasus itu, berawal dari banyaknya informasi terkait beredarnya tembakau gorilla di wilayah Kota Cimahi.

Atas informasi tersebut, Petugas Satres Narkoba Polres Cimahi kemudian melakukan pendalaman informasi dan penyelidikan.

“Anggota kami melakukan undercover (menyamar) saat pendalaman informasi penjualan tembakau sintetis itu. Hasil dari penyelidikan itu, polisi mendapatkan jaringan penjualan tembakau gorilla yang dipasarkan melalui media sosial Instagram.” ujar AKBP M Yoris Maulana didampingi Kasat Reserse Narkoba AKP Andri Alam Wijaya di lokasi kejadian, Senin (1/6/2020).

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Dalam sehari tersangka PS mengaku mampu memproduksi beberapa gram untuk dijadikan lintingan tembakau sintetis untuk dijual kembali. Tersangka PS dan tersangka Ds dalam sekali produksi mendapatkan keuntungan kotor sejumlah Rp175.000.000 per minggu.

Setiap 1 gram bibit tembakau sintetis dapat menghasilkan 50 gram tembakau sintetis dengan harga jual seharga Rp350.000 sampai Rp400.000 per 5 gram.

“Tersangka belajar meracik dan mendapat bahan baku pembuatan tembakau sintetis itu dari seseorang yang saat ini tengah dalam pengejaran petugas,” terang AKBP M Yoris Maulana.

Pemasaran hasil produksi tembakau sintetis kedua tersangka selain di Kota Cimahi, juga Kota dan Kabupaten Bandung serta beberapa Kota dan Kabupaten di wilayah pulau Jawa.

Akibat perbuatannya, tersangka PS dan DS dijerat Pasal 114 ayat (1) dan ?atau pasal 132 ayat (1) Subsider Pasal 113 ayat (1) dan atau Pasal 112 ayat (1) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

“Ancaman hukumannya pidana penjara di atas 10 tahun,” tegas AKBP M Yoris Maulana.

Tinggalkan Balasan