Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta Gagalkan Penyelundupan 6 Kg Sabu-Sabu

oleh -

sergap TKP – JAKARTA

Petugas gabungan Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta dan aparat terkait berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 6.055 gram atau 6 kilogram (Kg) narkoba jenis sabu-sabu.

Kepala KPU Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta Finari Manan mengatakan, Modus penyelundupan yang dilakukan pelaku dengan cara mengemas dengan kemasan pupuk dan kemudian dikirim melalui perusahaan jasa titipan.

Terungkapnya kasus tersebut berawal dari kecurigaan petugas  saat melakukan pemeriksaan melalui mesin x-ray terhadap 3 paket kiriman asal Malaysia. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, ditemukan puluhan kemasan pupuk yang diselipkan kristal bening yang ternyata adalah sabu-sabu.

“Ada tiga paket yang diperiksa oleh petugas, masing-masing paket berisi puluhan kemasan pupuk, dalam paket tersebut ada beberapa kemasan pupuk yang tidak berisi pupuk asli melainkan kristal bening atau amphetamine,” kata Finari, Sabtu (7/11/2020).

Finari menjelaskan, paket tersebut juga bertuliskan merk pupuk dengan rincian 27 kemasan pupuk dengan tiga di antaranya berisi serbuk kristal bening dengan berat bruto 3.029 gram, 24 kemasan pupuk dengan dua di antaranya berisi serbuk kristal bening dengan berat bruto 2.057 gram, serta 25 kemasan pupuk yang satu di antaranya berisi serbuk kristal bening dengan berat bruto 969 gram.

“Pada paket pertama ditemukan 3.029 gram sabu, pada paket kedua ditemukan 2.057 gram sabu, dan paket ketiga ditemukan 969 gram sabu,” terang Finari.

Berdasarkan hasil pengembangan penyelidikan, ditemukan 2 orang tersangka dari kasus pengiriman narkoba dengan modus kemasan pupuk tersebut. Pemilik paket yaitu MS (38) yang menggunakan alamat orang lain sebagai alamat penerimaan barang, dan seorang WNA asal Malaysia yang merupakan pengirim barang tersebut.

“Paket tersebut diketahui milik MS (38) dan saat ini sudah diamankan oleh polisi. MS mengaku mendapat kiriman dari pria berinisial A di Malaysia. Selanjutnya, pengembangan atas A dilanjutkan dalam penyelidikan oleh Polres Jakarta Barat,” ujar Finari.

Atas perbuatannya, Pelaku dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman pidana mati, pidana seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum Rp10 Milyar.

Tinggalkan Balasan