Ungkap Kasus Penampungan Calon TKI Ilegal, Polda Kepri Amankan 12 Orang

oleh -

sergap TKP – BATAM

Aparat Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri) berhasil mengungkap kasus calon tenaga kerja indonesia (TKI) ilegal. Sealasa (3/11/2020).

Hasil pengungkapan kasus tersebut, polisi mengamankan 12 orang calon TKI ilegal yang ditampung di tempat penampungan yang berada di Perum Cipta Emerald Centre Kota Batam.

Wadirreskrimum Polda Kepri, AKBP Ruslan Abdul Rasyid mengatakan, Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi yang diberikan oleh masyarakat terkait adanya tempat penampunganTKI ilegal.

“Dari informasi tersebut selanjutnya ditindak lanjuti dengan penyelidikan. Hingga akhirnya diketahui bahwa benar di tempat tersebut ditemukan 2 orang perempuan calon pekerja migran Indonesia ilegal dan 1 orang pengurusnya yang berinisial SC,” ujar AKBP Ruslan Abdul Rasyid di Mapolda Kepri, Batam, Selasa (3/11/2020).

Selanjutnya dilakukan pengembangan dan dari hasil pengembangan pada pukul 17.00 WIB Tim Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepri berhasil menemukan 10 orang perempuan calon PMI Ilegal yang ditampung di Perum Muka Kuning Paradise, Sagulung, Kota Batam beserta 1 orang pengurusnya berinisial FA.

“Modus Operandi yang dilakukan oleh terduga tersangka yaitu pelaku merekrut korban dari daerah asalnya melalui media sosial Facebook (FB) dengan akun @lowongan kerja batam untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (art) di Singapura dan Dubai dengan iming-iming gaji sebesar Rp6 juta per bulan,” ujarnya.

AKBP Ruslan mengatakan, Berdasarkan hasil pemeriksaan tersangka inisial FA ini berperan sebagai pengurus pekerja migran. Sedangkan tersangka inisial DW berperan sebagai perekrut dan penampung TKI ilegal ini.

“Sementara tersangka inisial SC yang berperan sebagai perekrut pekerja Migran,” imbuh Ruslan.

Selain mengamankan para pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti diantaranya berupa, 4 unit handphone, 8 lembar surat peryataan bermaterai 6.000, 9 buku paspor, 1 rangkap akta perseroan komanditer CV Aura Ria Batam, 5 lembar dokumen perijinan CV Aura Ria Batam, 1 rangkap dokumen certificate EA TRUST, 4 rangkap dokumen hasil MCU + CD RD, 1 rangkap dokumen hasil PCR SWAB an. Risa Rusita yang diterbitkan Klinik Medilab tanggal 26 Oktober 2020, 4 lembar dokumen surat hasil rapid test COVID-19, 1 buku cacatan warna cokelat gambar batik, 1 buku catatan warna ungu, 1 pakaian kaos warna merah, 1 set pakaian kaos warna merah biru, dan merah.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya,  para tersangka disangkakan melanggar Pasal 81 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

“Ancamannya hukumannya paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 15 miliar,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan