Walikota Surabaya Marahi Pelaku Pengedar Pil Koplo

0

sergap TKP – SURABAYA

Posek Tegalsari jajaran Polrestabes Surabaya berhasil menyita jutaan pil koplo jenis Double L hasil pengembangan kasus yang sebelumnya ditangani Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya dengan barang bukti total sebanyak 4.894.000 butir.

Barang bukti sebanyak itu disita petugas berikut bersama sejumlah tersangka yang masing-masing berinisial EN (34), AL (47), MT (25), EO (25), ST (35) dan TD. “Peredaran pil koplo di Surabaya diedarkan secara masif dan terorganisir dengan baik. Mulai dari pabrik yang berada di Jawa Barat kemudian dibawa ke Jakarta. Dari Jakarta, pil ini masuk ke Surabaya dan disebarkan secara masif ke berbagai daerah di Jawa Timur,” ujar Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan, Senin (23/4/2018).

Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang juga turut hadir dalam press release pengungkapan kasus tersebut juga turut geram melihat para pengedar pil berbahaya tersebut. “Apa kamu gak merasa berdosa mengedarkan jutaan pil ini. Kalau pil ini dikonsumsi anakmu bagaimana ,” tanya Risma kepada pelaku dengan ekspresi kesal.

Orang nomor satu di Surabaya ini sendiri juga mengaku bahwa telah mendapati sendiri peredaran pil koplo di Surabaya. Dimana pada saat itu anggota Satpol PP yang melakukan razia di malam hari berhasil menangkap sejumlah anak yang mengaku bahwa mereka merupakan pemakai pil Double L yang diketahui memilik efek yang hampir serupa dengan narkoba.

Akibatnya anak-anak yang sudah mrngkonsumsi pil koplo ini umumnya akan merasa bingung dan susah berkonsentrasi. Bahkan pada pengguna yang berstatus sebagai pelajar dapat menimbukan perasaan malas sekolah dan terkadang sering bermasalah di sekolah.

Risma mengandaikan jika barang bukti sebanyak itu berhasil diedarkan, entah berapa banyak nyawa yang mati perlahan-lahan akibat pil tersebut. Ia juga menyamakan hal ini sama dengan perang kimia. “Ini sama dengan perang senjata kimia menurut saya bahayanya karena kalau senjata langsung bisa terbunuh kalau ini menyiksa dengan pelan-pelan dan kemudian menularkan itu anak-anak yang lain itu yang berbahaya,” ujarnya.