Harga Cabai Melonjak, Kadistan Jatim Sebut Pengaruh La Nina

oleh -

sergap TKP – SURABAYA

Harga cabai rawit di Jawa Timur mengalami peningkatan yang cukup signifikan akhir-akhir ini. Bahkan harga cabai rawit mencapai Rp 100-110 ribu per kilogramnya di salah satu pasar tradisional di Surabaya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadistan) Jawa Timur Dr. Ir. Hadi Sulistyo M.Si mengungkapkan kenaikan harga cabai ini dipengaruhi oleh adanya kecenderungan mundurnya musim tanam.

Hal ini terpengaruh kondisi La Nina dan curah hujan yang cukup intensif. Alhasil dengan kondisi ini cukup mempengaruhi puncak panen. Dengan rendahnya luas tanaman cabai di bulan Januari maka diprediksi puncak panen akan terjadi pada April hingga Mei

“Secara periodik memang luas tanaman cabai di Bulan Januari relatif rendah, dan baru akan mengalami musim puncak panen di April hingga Mei,” kata Dr. Hadi Sulistyo.

Lebih lanjut, Hadi menjabarkan bahwa produksi cabai rawit di tahun 2020 mencapai 612.978 ton dari luas panen yang mencapai 58.563 hektare (ha). Dimana kebutuhan konsumsinya sekitar 67.008 ton per tahun. Sehingga masih ada surplus 545.970 ton yang bisa disalurkan untuk mencukupi kebutuhan di daerah lainnya.

Sementara di tahun 2021 ini, produksi cabai rawit berdasarkan asumsi hitungan sekitar 326.470 ton. “Potensi luas panen komoditi cabai rawit pada semester I (Januari-Juni) sebesar 22.853 hektare dengan produksi sebesar 286.923 ton. Kemudian potensi luas panen komoditi cabai rawit pada semester II (Juli-Desember) sebesar 39.547 hektare,” jelas Hadi.

Hadi Sulistyo mengungkapkan kemungkinan terjadinya gangguan produksi cabai rawit dipengaruhi sejumlah hal seperti fenomena La Nina berupa bencana hidrometeorologi banjir.

Selain itu, dengan tinggi intensitas curah hujan juga menimbulkan kewaspadaan terjadinya peningkatan serangan Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT) yang dipengaruhi kelembaban tinggi.