sergap TKP – SURABAYA
Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jatim membentuk Tim Penyuluh Terpadu Anti Radikalisme.
Wakapolda Jatim, Brigjen Pol Djamaludin mengatakan, Pembentukan Tim Penyuluh Terpadu Anti Radikalisme ini berjumlah 220 orang. Pembentukan tim ini bertujuan untuk meminimalisir potensi aksi radikalisme dan terorisme di Jatim.
“Mereka terdiri dari Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Polda Jatim dan jajaran serta organisasi masyarakat (ormas) dan juga organisasi non pemerintah yang lain. Bahkan, sejumlah dosen perguruan tinggi juga dilibatkan dalam tim ini,” ujar Brigjen Pol Djamaludin. Selasa (10/12/2019).
Menurut Wakapolda, persoalan radikalisme dan terorisme, diakibatkan pemahanan agama yang masih rendah. Makanya, dengan adanya pelatihan pada Tim Penyuluh Terpadu Anti Radikalisme, diharapkan akan mampu menyampaikan secara luas di masyarakat akan bahaya radikalisme.
“Tim Penyuluh Terpadu Anti Radikalisme ini baru pertama kali di Indonesia. Tahun depan, kami juga akan menggelar pelatihan serupa. Tim ini nantinya juga diharapkan mampu menangkal ajaran radikalisme dan terorisme di masyarakat.” ujar Djamaludin.
Direktur Binmas Polda Jatim, Kombes Pol Iwan Setiawan menambahkan, kegiatan pelatihan ini digelar hingga tiga hari mendatang. Para peserta rencanaya akan dididik dan diberi pembekalan terkait materi radikalisme. Sejumlah narasumber penting juga akan hadir. Diantaranya mantan narapidana teroris.
“Yang dari Bhabinkamtibmas yang ikut pelatihan ini sekitar 70 orang. Tahun depan kan ada lagi pelatihan seperti ini. Nah, anggota yang belum ikut, akan kami ikutkan untuk jadi peserta,” tambah Kombes Pol Iwan Setiawan.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jatim Jonathan Judianto mengatakan, pelatihan pada Tim Penyuluh Terpadu Anti Radikalisme diharapkan mampu melengkapi pemahaman anggota akan bahaya radikalisme dan terorisme. Salah satu materi yang akan disampaikan adalah soal cara deteksi ini pada kelompok atau orang yang berpotensi melakukan aksi terorisme.
“Nantinya, para peserta pelatihan ini akan mendapatkan sertifikasi dari kami,” ujar Jonathan.
Untuk diketahui, pada Minggu (13/5/2018) silam, Surabaya digemparkan dengan aksi bom bunuh diri disejumlah gereja. Dalam aksi tersebut, pelaku berjumlah sebanyak 13 orang. Semuanya tewas ditempat kejadian saat melakukan aksinya.
Para pelaku diduga merupakan jaringan dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAD) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Mereka beraksi di sejumlah lokasi. Enam pelaku tewas saat beraksi di tiga gereja di Surabaya. Satu orang di Gereja Pantekosta Jalan Arjuna, tiga orang di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro, dua orang di Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya.
Keenam pelaku ini masih satu keluarga. Sedangkan tiga orang tewas dalam ledakan bom di Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) Wonocolo, Sidoarjo yang juga masih satu keluarga. Terakhir adalah empat pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya.
Sementara untuk total jumlah korban tewas dalam peristiwa ledakan bom ini sebanyak 21 orang. Dari rangkaian peristiwa ini, semua melibatkan anak kecil. Baik pengeboman di gereja, di rusunawa maupun Mapolrestabes Surabaya.






