sergap TKP – SURABAYA
Penanganan corona virus disease 2019 atau Covid-19 menjadi topik hangat ditengah mewabahnya pandemik yang mengakibatkan lebih dari 171 ribu jiwa meninggal di seluruh dunia. Hal ini juga mendapat perhatian dari Komunitas MASTER (Masih Suka Berteater).
Melalui pementasan drama monolog berjudul “Pandemi”, komunitas yang berisi sejumlah seniman muda asal Surabaya menyoroti penanganan COVID-19 di berbagai negara, khususnya Indonesia.
“Virus corona membuat banyak negara di dunia kewalahan menanganinya. Termasuk Indonesia yang kini belum tuntas menghambat penyebaran COVID-19,” ungkap M Afrizal Akbar penulis naskah Pandemi di Surabaya, Selasa (21/4/2020).
Afrizal mengungkapkan pementasan drama monolog ini juga sebagai bentuk evaluasi
sekaligus kritik tentang kegagapan dunia menyikapi pandemik tersebut.
Bahkan dalam pertunjukan tersebut pihaknya juga mengangkat berbagai teori yang muncul terkait perdebatan asal muasal virus tersebut termasuk teori konspirasi yang menyebut corona sebagai senjata biologis
“Kegagapan penanganan pandemik ini juga terjadi di Indonesia. Sejak awal Covid-19 ini dianggap lelucon. Walau sudah diingatkan WHO berulang kali, saat menyebar dan mewabah, pemerintah menjadi gagap dalam penanganannya,” jelas Afrizal.
Pria yang menjabat Sekjen IKA Stikosa-AWS ini juga menyebut bahwa pandemi ini telah melumpuhkan banyak sendi kehidupan di masyarakat sehingga pemerintah harusnya bisa lebih tanggap dalam menangani permasalahan ini.
“Banyak pekerja dirumahkan hingga dirumahkan. Orang miskin baru mulai bertumbuh. Program bantuan pemerintah juga mulai digulirkan, dari dana bantuan bagi korban dan masyarakat terdampak. Namun tak sedikit pula yang belum bisa merasakan bantuan. Ini menjadi kritik juga yang kami sampaikan melalui pertunjukan,” ucapnya.
Monolog Pandemi yang disutradarai oleh Ryan Herdiansyah dan difasilitasi Dewan Kesenian Kota Surabaya serta didukung oleh tim kreatif dari Teater Geo, Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya tersebut menyuguhkan berbagai emosi.
Seperti rasa kemanusiaan, pesan tentang kekuatan masyarakat dalam bergotong royong, peduli sesama, hingga upaya menciptakan lumbung pangan mandiri tanpa sentuhan pemerintah.
Satire yang disuguhkan juga cukup gamblang ditunjukkan dalam monolog tersebut seperti saat banyak korban meninggal harus dicekal, kecurigaan, sampai ada korban yang mati, banyak pihak justru berlomba mengklaim itu akibat corona dengan diagnosa layaknya petugas medis.
Terlebih monolog ini juga mengangkat peran petugas medis dan paramedis yang menjadi benteng melawan corona. Sampai nasib dokter dan perawat yang diusir dari tempat tinggalnya dan bahkan harus kehilangan nyawanya karena corona.
Upaya preventif untuk memutus penyebaran juga menjadi menjadi salah satu pesan yang tersirat sebab disampaikan dengan kalimat satire menggunakan logika terbalik.
Sementara itu aktor pemeran dalam monolog Pandemi, Gegeh B Setiadi menyebut bahwa monolog ini merupakan bagian dari upaya mereka untuk mempertahankan kreativitas dalam berkesenian.
“Di saat semua harus berhenti dengan social distancing, di tengah pandemik covid-19, lakon Pandemi hadir. Lakon ini bercerita tentang kegagapan negara ketika terjadi pandemik covid-19,” beber Gegeh.
Pementasan ini sendiri menjadi pengalaman tersendiri bagi Gegeh, kendati ini bukan yang pertama baginya. Namun menyajikannya secara daring menjadi sesuatu yang berbeda karena dilakukan untuk pertama kali.
“Ini pengalaman pertama. Pengalaman pertama tampil secara streaming dengan internet. Sebelumnya kami pernah tampil dalam beberapa pementasan teater. Ini menarik lantaran kami juga pertama kali menggelar pementasan melalui daring,” ujar Gegeh.







