Ngaku Jadi Anggota BNN dan Polisi, Tujuh Orang Ini Rampas Motor dan Uang Tunai

oleh -

sergap TKP – SURABAYA

Sebanyak tujuh tersangka pelaku perampasan ditangkap aparat kepolisian Polrestabes Surabaya. Para tersangka ini ditangkap lantaran melakukan perampasan dan pemerasan.

Wakapolrestabes Surabaya AKBP Hartoyo menjelaskan dalam aksinya tersebut para tersangka ini mengaku sebagai anggota Badan Narkotika Nasional (BNN) hingga sebagai Kasat Jatanras.

Adapun para tersangka tersebut yaitu AY (44) warga Jalan Desa Kemantren, Tulangan, Sidoarjo, MHN (37) warga Desa Wonomlati, Krembung, Sidoarjo, HL (32) warga Perumahan Pasar Wisata, Sidoarjo dan SP (45) warga Jalan Kedung Klinter, Surabaya.

Selanjutnya adalah DS (39) warga Jalan Wonorejo, Surabaya, SBS (52) warga Dusun Banar, Desa Pilang, Wonoayu, Sidoarjo dan MA (39) warga Dusun Lempung, Sidoarjo.

“Tujuh tersangka ini kami amankan di lokasi yang berbeda. Mereka mengaku polisi BNN untuk menakuti korban, dan sempat melakukan pemukulan terhadap korban,” kata AKBP Hartoyo.

Ketujuh tersangka tersebut melakukan pemerasan terhadap korban SN dan RD dan memintai korban uang Rp 20 dan 25 juta ats tuduhan penyalahgunaan narkoba.

Aksi tersebut diawali dengan ide salah satu tersangka untuk mengaku sebagai anggota BNN dan polisi untuk melakukan pemerasan dan pencurian. Selanjutnya mereka dengan mengendarai mobil Daihatsu Sigra menuju ke Jalan Kendalsari, Surabaya.

Disana mereka melihat kedua korban tengah berada di warkop dan sedang bermain handphone. Lantas tersangka mendatangi korban dan langsung memegang leher keduanya untuk dibawa masuk ke dalam mobil.

Selanjutnya, kedua korban diintimidasi dan dituduh menggunakan narkoba. Korban ketakutan dan diminta uang Rp 20 juta dan Rp 25 juta. Keduanya mengaku tidak punya uang hingga dipukuli di dalam mobil.

Kemudian sepeda motor korban SN dicuri oleh AY dan diserahkan ke HL untuk dijual ke MA seharga Rp 14 juta. Selanjutnya tersangka lain mengambil uang SN senilai Rp 950 ribu dan mengambil uang di ATM RD sebanyak Rp 1 juta.

“Kemudian mereka membagi di warkop Desa Lebo, Sidoarjo, sementara korban ditelantarkan di jalan,” jelasnya.