sergap TKP – SURABAYA
Untuk mengantisipasi kekeringan lahan akibat musim kemarau panjang tahun ini, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jatim, Hadi Sulistyo ternyata telah melakukan langkah antisipasi dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang ada, serta meningkatkan intensitas pertanaman (IP).
“untuk air irigasi, Kementerian Pertanian dan Pemprov Jatim menggencarkan rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RJIT).” kata Hadi Sulistyo. Rabu (10/6/2020).
Menurut Hadi Sulistyo, rehabilitasi jaringan irigasi tersier ini sangat penting karena untuk membantu pemberdayaan petani dengan mempermudah pengairan.
“Jaringan irigasi tersier merupakan komponen mutlak dalam jaringan sistem irigasi dan langsung berhubungan dengan para petani, Karena dengan adanya jaringan irigasi ini akan menambah luas layanan sawah yang terairi. Selain itu, dengan volume yang sama, air yang dialirkan dapat mengairi sawah lebih luas, karena air akan terdistribusi secara efisien,” ujar Hadi Sulistyo.
Selain melakukan rehabilitasi jaringan irigasi, Hadi Sulistyo juga mengatakan jika pihaknya telah mengintruksikan untuk memanfaatkan embung-embung yang ada.
“Embung atau tandon air merupakan waduk yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan di musim hujan,” terang Hadi Sulistyo.
Tak hanya itu, Dalam rangka antisipasi menghadapi musim kemaraudi Jawa Timur, Dinas Pertanian Provinsi Jatim juga telah mengalokasikan bantuan pompa ke wilayah-wilayah yang rawan kekeringan, serta melaksanakan Bantuan Pemerintah (Banpem), antara lain, dengan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) mulai 2011 – 2020.
“Rahabilitasi ini siap untuk mengairi sawah seluas 527.410 Ha di seluruh Kabupaten dan Kota Blitar,” bebernya.
Hadi Sulistyo menuturkan, saat ini di Jawa Timur untuk pembangunan embung telah mencapai 939 unit, dan tersebar di 29 Kabupaten dan Kota Blitar semua dalam kondisi baik dan siap digunakan untuk mengairi lahan seluas 93.900 hektare.
“Pembangunan perpompaan besar sampai saat ini ada 85 unit dengan luas pengairan 2.125 Ha, pompa menengah ada 70 unit dengan luas pengairan 1.400 ha, dan perpipaan sebanyak 10 unit dengan luas pengairan 200 ha,” tuturnya.
Sedangkan ketika ditanya tentang Cadangan Benih Nasional, Hadi Sulistyo mengatakan bahwa Pemprov Jatim telah menyiapkan cadangan benih Nasional (CBN), termasuk proseduruntuk mendapatkan benih tersebut.
“Benih tanaman pangan yang diperuntukkan untuk kebutuhan mendesak seperti akibat bencana alam yang menyebabkan pertanian mengalami gagal panen atau puso. Dan untuk prosedur mendapatkan benih dari CBN ini cukup mudah. Petani/kelompok tani/gapoktan yang terkena dampak bencana alam/non alam sehingga mengalami puso dapat langsung mengajukan permohonan yang ditandatangani oleh petugas lapangan setempat dan diverifikasi benar dan absah, maka Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi membuat surat permohonan bantuan benih CBN ke Direktur Jenderal Tanaman Pangan sebagai pemulihan puso akibat bencana,” pungkasnya.






