sergap TKP – SURABAYA
Pasca viralnya pemberitaan media asing yang menyebut tahu di Indonesia mengandung dioksin, Konsorsium Lingkungan Hidup (KLH) bersama PT. Suparma Tbk mencoba mengedukasi pengusaha tahu.
Edukasi tersebut dilakukan dengan mengajak Zaenal Arifin, salah seorang pengusaha tahu Desa Tropodo Krian Sidoarjo yang sebelumnya menggunakan plastik sebagai bahan bakar produksi untuk mengunjungi pabrik tahu yang berada di Kecamatan Jambangan Surabaya.
“Kami sengaja mengajak pengusaha tahu Tropodo untuk melihat pabrik tahu di Jambangan dengan bahan bakar kayu agar mereka mengerti bahaya sampah plastik jika digunakan sebagai bahan bakar,” ujar Didik Harimuko di pabrik tahu Jambangan, Kamis (12/12/2019).
Didik menegaskan bahwa pemberitaan selama ini baik dari internasional maupun nasional terlalu berlebihan karena industri tahu yang menggunakan bahan bakar plastik di Indonesia tidak secara keseluruhan sebab banyak diantaranya yang menggunakan bahan bakar kayu.
“Karena berita itu, banyak pengusaha tahu yang dirugikan, padahal selama ini untuk bahan bakar mereka menggunakan kayu bukan plastik, kalau pun ada yang menggunakan plastik sebagai bahan bakar, jumlahnya hanya sedikit,” terangnya.
Sementara itu PT. Suparma Tbk juga berupaya membantu pengusaha tahu yang telah berhenti menggunakan bahan bakar plastik melalui CSR (corporate social responsibility) berupa suplai kayu gratis untuk bahan bakar
“Selama tiga bulan kedepan, kami memberikan kayu bekas gratis untuk salah satu pabrik tahu di Tropodo,” ujar General Affairs Manager PT Suparma, Yustiyohadi.
Yustiyohadi mengungkapkan saat ini pemerintah gencar melakukan sosialisasi 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) dan hal tersebut telah diterapkan pihaknya dengan modifikasi menjadi 4R dimana R yang terakhir adalah Return to Earth.
“Dengan beralih ke kayu, asap yang dikeluarkan pabrik tahu lebih berkualitas dibanding dengan plastik. Selain itu abu sisa pembakaran, juga masih dibisa diolah,” ujar Yustiohadi.
Ia mengklaim pihaknya memiliki stok 20 truk engkel bermuatan kayu sebanyak 20 truk engkel dimana jika dikalkulasi dengan kebutuhan bahan bahkan industri tahu pak Zaenal maka stok tersebut bisa cukup sampai tiga bulan.
“Kebutuhan Pak Zaenal dalam sehari sebanyak satu mobil pick up, jadi perkiraan kami stok cukup sampai tiga bulan kedepan,” ungkapnya.
Pihaknya juga berharap inisiatif yang dilakukan ini bisa menginspirasi perusahaan kertas lainnya. “Kami mencoba mengawali, semoga semakin banyak perusahaan kertas yang membantu pengusaha tahu, karena semua untuk masyarakat,” imbuhnya.







