sergap TKP – SURABAYA
Difasilitasi lembaga Konsorsium Lingkungan Hidup (KLH) Zainal Arifin, salah seorang pengusaha industri kecil menengah (IKM) tahu asal Tropodo Krian Sidoarjo, mendatangi IKM tahu milik Sani Raihan yang ada di Jambangan Surabaya.
Kedatangan tersebut dilakukan pasca viral pemberitaan tahu di Krian mengandung dioksin, dan Zainal Arifin ini sebelumnya merupakan salah satu produsen tahu yang sudah mulai meninggalkan plastik sebagai bahan bakar.
Zainal mengaku selama dua pekan ini pihaknya telah meninggalkan bahan bakar plastik den beralih ke kayu sama seperti yang dilakukan oleh IKM tahu yang dikelola Sani Raihan.
“Sudah dua minggu yang lalu (tidak memakai bahan bakar plastik), alasannya ya tidak menggangu lingkungan,” ungkapnya di pabrik tahu Jambangan, Kamis (12/12/2019) siang.
Saat ditanya apakah peralihan bahan baku tersebut mengurangi omzetnya, Zainal membenarkan hal tersebut namun yang bersangkutan mengklaim penurunan omzet tersebut tidak banyak. “Ya cuma sedikit, masih (untung),” akunya.
Sebab perbedaan harga bahan bakar itu sendiri cukup jauh dimana untuk bahan bakar plastik satu pickupnya Rp 200 ribu, sedangkan kayu satu pickup nya Rp 350 ribu.
Zainal sendiri mengaku saat masih memakai bahan bakar plastik, biasanya kondisi di lingkungannya selalu tampak mendung dimana asap hasil pembakaran plastik berwarna hitam.
Di lingkungannya sendiri sudah sebagian pengusaha tahu yang beralih dari plastik ke kayu sebagai bahan bakarnya. “Masih ada sebagaian, belum semua (beralih dari plastik ke kayu),” ungkapnya.
Peralihan dari plastik ke kayu tersebut tidak terlalu berat dirasakan oleh Zainal sebab peralihan tersebut dibantu oleh PT. Suparma Tbk yang dengan CSRnya (corporate social responsibility) menyuplai kayu bakar.
“Suplai dari PT. Suparma, dua tiga hari kita disuplai (kayu) gratis untuk sementara,” ucap Zainal.
Bapak dua anak tersebut mengaku awalnya ia mengetahui bahaya penggunaan plastik sebagai bahan bakat tersebut setelah viral pemberitaan media asing yang saat itu juga mempengaruhi omzet penjualan tahu yang diproduksinya.
“Pemberitaan dari media asing bahwa tahu kita mengandung deoksin, mengandung racun, dan pada saat itu omzet kita menurun gara gara (pemberitaan) media asing itu sampai sekarang, tapi sekarang alhamdulilah mulai lancar lagi tahu kita,” ungkapnya.
Zainal mengaku penggunaan plastik sebagai bahan bakar tersebut sudah turun menurun. “Kan sudah puluhan tahun, nenek moyang kita sudah menggunakan plastik,” ujarnya.
Namun setelah sekian lama akhirnya melalui pemberitaan tersebut pihaknya akhirnya mengetahui bahaya dan efek dari bahan bakar plastik. “Baru tahu efeknya setelah (pemberitaan) media asing,” ucapnya.






