Mengenal Kombes Sentosa Ginting, Polisi Berwibawa dan Penuh Prestasi

oleh -

sergap TKP – SURABAYA

Terhitung sudah dua tahun tiga bulan menjabat sebagai Direktur Reserse Narkoba (Dirresnarkoba) sejak akhir November 2017 lalu, berbagai prestasi telah diwujudkan Kombes Pol Drs. Sentosa Ginting Manik dalam kepemimpinannya.

Pria yang bakal dimutasi sebagai penyidik tindak pidana madya tingkat II Bareskrim Polri ini mengungkapkan bahwa sebagai anggota Polri siap ditempatkan di satuan manapun atau dimanapun tidak menjadi masalah.

“Tugas polisi itu sebenarnya sama mau di reserse, mau di binmas mau personil itu semua panggilan. Kebetulan saya pindah fungsi dari pernah di sahbara, pernah polair terakhir ini menjadi Dirnarkoba di polda jatim sebelumnya di gorontalo,” ujarnya saat di temui di ruang kerjanya, Sabtu (8/2/2020).

Selama kepemimpinannya, Ditresnarkoba Polda Jatim mengalami kenaikan angka kriminalitas untuk kasus narkoba dari yang sebelumnya di data pada akhir 2017 sekitar 4000 kasus meningkat hingga lebih dari 25 persen.

“Mulai tahun 2017 angka masih 4000 sekian dari semua jajaran dimana tersangkanya juga demikian lebih banyak dari crime  totalnya bisa sampai 5000 an di tahun 2018 ini terjadi peningkatan itu naik nya menjadi 5000 sekian tersangka ny juga demikian dari 5000 naik menjadi 6000 sekian pelakunya,” jelas Kombes Sentosa Ginting.

Pengungkapan tersebut dilakukan baik atas informasi dari masyarakat maupun temuan di lapangan sendiri. Bahkan di tahun 2019 peningkatan terus terjadi dengan adanya peningkatan kerjasama dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim.

“Ditahun 2019 juga terjadi peningkatan artinya tiap tahun tidak pernah turun bahkan naiknya 1000 lagi di tahun 2019 ini angka kejadiannya kita total ada 7000 an pelakunya hampir ada 8000 an,” ujarnya.

Salah satu kasus menonjol yang pernah di tangani Ditresnarkoba selama dipimpin oleh Ginting adalah ungkap kasus dengan barang bukti 31 kilogram (kg). “Selama saya di sini tangkapan bb paling besar 31 kg di tanggal 16 januari 2020 dari 1 kasus dari Malaysia,” ungkapnya.

Alumnus Akpol angkatan 1987 ini mengaku tidak ada duka selama dirinya menjabat di Polda Jatim. “Untuk suka dukanya sebagai Dirrnarkoba di Jatim ya, sukanya aja ya kita happy di sini dukanya tidak ada,” akunya.

Menurutnya selama bekerja sesuai tupoksi dan dibandingkan dengan fungsi yang lain mungkin ada perbedaannya. “Ya karena kita mencari, kalau tidak mencari kita tidak akan menemukan, karena mereka sembunyi semua,” ungkapnya.

Melalui pengungkapan kasus narkoba 70 kg pada tahun kemarin setidaknya pihaknya telah menyelamatkan 70 ribu jiwa dengan estimasi 1 gram bisa menyelamatkan 10 orang. “Berarti 70 ribu jiwa kita selamatkan dalam 1 tahun,” imbuhnya.

Untuk kesulitannya sendiri Ginting mengaku narkoba ini punya jaringan sel-sel sampai ke bawah. “Jadi kita mau ungkap ke atas selalu putus, karena kita tidak bisa ungkap. Saya perintah ke sana dia juga tidak tahu bosnya,” bebernya.

“Harapan kita bisa ungkap bandar yang besar-besar karena jaringan itu putus semua, kita ini cuma dapat bandar dan kurir yang kecil, padahal ingin yang besar, dan bisa keluar negeri seperti tangkapan yang kemarin itu yang menjadi catatan bagi kita,” tambahnya.

Untuk itu ia juga berpesan pada masyarakat untuk mencintai diri sendiri dengan menjauhi narkoba. “Sayangilah badan katakan tidak untuk narkoba karena narkoba sekali mencoba akan ketagihan, akhirnya kesehatan kita semakin tidak terjaga dan akan rusak,” pesannya.

Ginting mengungkapkan pelaku narkoba paling banyak dari rentang usia 15-18 tahun yakni sekitar 850 orang, sedang rentang usia 20-24 tahun ada 2016 orang. “Paling banyak penggunanya yang 25 tahun sampai 64 tahun sekitar 4499 orang. Usia yang sudah mapan kerja, sudah punya penghasilan dari jumlah 7898 kasus yang kita tangani periode 2019,” pungkasnya.