Polisi Ungkap Kasus Ilegal Akses Kartu Kredit Yang Libatkan Artis

oleh -

sergap TKP – SURABAYA

Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim)  berhasil mengungkap kasus kejahatan siber terkait ilegal akses kartu kredit yand diduga melibatkan sejumlah artis tanah air.

Dalam pengungkapan kasus tersebut, pihak kepolisian mengamankan tiga orang tersangka yakni Sergio Chondro, Mira Deli Ruby dan Farhan Darmawan, ketiga diringkus petugas pada Minggu (16/2) di Surabaya.

Para tersangka ini kedapatan membobol  kartu kredit para korbannya yang kemudian digunakan untuk membeli tiket promo pesawat dan hotel yang kemudian oleh para pelaku tiket tersebut dijual kembali melalui akun Instagram @tiketkekinian.

Penjualan tiket tersebut ternyata melibatkan  sejumlah artis ternama tanah air seperti Gisella Anastasia, Tyas Mirasih, Jessica Iskandar, Boy William serta selebgram Awkarin dan Ruth Stefani.

Sementara itu Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan tersangka Sergio dan Farhan ini membuka usaha agen travel dengan menjual tiket dengan harga promo dari 20-30 persen.

Dari situ kemudian apabila terdapat ada pelanggan yang memesan tiket, tersangka kemudian meminta pelanggan untuk mencari tahu terlebih dahulu harga tiket resmi yang ada pada website.

“Dalihnya agar bisa menentukan diskon yang akan diberikan kepada pelanggan,” imbuh Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko di Surabaya, Kamis (27/2/2020).

Tersangka Sergio dan Farhan ini membeli tiket yang dijual kembali tersebut dari hasil ilegal akses jenis carding yang dilakukan oleh tersangka Mira dengan harga 40-50 persen dari harga resmi.

“Kemudian dijual lagi kepada pelanggan seharga 70-75 persen dari harga resmi,” tambah perwira menengah Polri dengan tiga melati dipundaknya tersebut.

Tersangka Mira sendiri mendapatkan data kartu kredit milik orang lain dengan cara membeli dari para pelaku spammer atau pencuri data kartu kredit melalui Facebook Messenger dengan harga Rp150 ribu – 200 ribu.

“Untuk data kartu kredit yang dibobol digunakan untuk melakukan pembelian tiket-tiket adalah milik orang Jepang,” ucap Kombes Trunoyudo.

Bisnis tersebut telah berlangsung sejak tahun lalu tepatnya pada Februari 2019 lalu. Apapun omzet per bulannya mencapai Rp30 juta. Sepanjang bisnis tersebut berjalan para tersangka ini telah melakukan 500 transaksi tiket hasil carding dengan keuntungan Rp 300 juta-Rp 400 juta.

“Kemudian Farhan melakukan perbuatan sejak awal 2018, dengan keuntungan perbulan kurang lebih Rp10 juta, dalam 2 tahun melakukan 400 transaksi tiket hasil carding dan sudah mendapatkan keuntungan Rp240 juta,” ungkap Trunoyudo.

Sementara tersangka Mira memulai usaha ilegal tersebut sejak Maret 2019, dengan keuntungan Rp20 juta tiap bulannya dan dalam setahun mencapai Rp240 juta.

Sementara terkait peran artis, para tersangka menggaet mereka dengan cara endorsement. Artis tersebut dibiayai oleh tersangka untuk beberapa perjalanan yang menggunakan maskapai penerbangan dan hotel. Sebaliknya para artis ini diminta untuk mengunggah promo produk mereka di media sosial.

“Namun membelinya dengan uang hasil usaha penjualan tiket yang didapatkan secara ilegal. “Akan kami layangkan pemanggilan kepada publik figur, sebagai saksi,” ujarnya.

Atas perbuatannya para tersangka dijerat pasal 32 ayat (1) jo pasal 48 ayat (1) UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE jo pasal 55 ayat (1) KUHP dan/atau pasal 56 KUHP.

“Ancaman hukumannya, pidana 10 tahun penjara. Kemudian denda Rp5 miliar,” tandas Truno.