Antisipasi Puncak Hujan, Forkopimda Gelar Apel Kontijensi Bencana Alam

oleh -

sergap TKP – SURABAYA

Guna mengantisipasi terjadinya bencana alam akibat puncak hujan di Jawa Timur yang diprediksi oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi bulan November 2021 sampai Februari 2022, Forkopimda Jatim menggelar apel kontijensi kesiapan penanggulangan bencana alam.

Apel yang berlangsung di lapangan Kodam V Brawijaya ini dipimpin oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang didampingi Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto, Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta dan Kaskoarmada II Laksma TNI Rahmad Jayadi.

Apel yang diikuti 825 personel yang terdiri dari anggota TNI/Polri, BPBD dan Dinkes Prov Jatim serta peralatan yang digunakan untuk penanganan bencana alam seperti ambulance, truk evakuasi korban, kendaraan covid hunter, kendaraan videotron Bidhumas, genset darurat, perahu karet, tenda darurat BPBD dan Dinsos Prov Jatim serta dapur umum lengkap.

Gubernur Khofifah menjelaskan bahwa seluruh stakeholder harus sudah membangun sinergitas dalam menyiapkan segala sesuatu, yang terkait dengan kemungkinan jika ada puncak hujan nanti yang seringkali dikenal dengan bencana alam hidrometeorologi.

Hidrometeorologi ini dikatakan oleh Khofifah bisa terjadi karena cuaca ekstrem, hujan dengan kapasitas air yang sangat tinggi yang kemudian mengakibatkan longsor dan juga bisa akibat perubahan iklim global.

“Oleh karena itu semua lini, jadi Forkopimda di jajaran Pemprov, Forkopimda kabupaten /kota, seluruh relawan Basarnas, semua sudah harus bersinergi melakukan kesiapsiagaan, melakukan mitigasi, untuk bisa mengantisipasi segala sesuatu yang harus kita lakukan, antisipasi secara komperhensif,” terangnya.

Gubernur wanita pertama di Jatim ini juga mengungkapkan bahwa setiap bencana alam berpotensi menimbulkan bertambahnya kemiskinan, bahkan bisa sampai di atas 50 persen. Nah 80 persen Jawa Timur ini berpotensi terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam.

“Bencana alam akibat hidrometeorologi ini bisa berakibat pada rusaknya infrastruktur, kemudian rumah, karena bisa juga berseiring dengan angin puting beliung, ada hujan ada angin puting beliung, ada longsor dan seterusnya,” sambungnya.

Selain itu, Gubernur juga mengingatkan kepada setiap daerah yang pernah mendapatkan pelatihan siaga bencana sudah harus menyiapkan relawannya, karena secara scientific bisa di prediksi.

“Oleh karena itu, daerah-daerah yang dulu sudah pernah mendapatkan pelatihan di kampung siaga bencana, atau Kampung tangguh, ini sama-sama harus sudah menyiapkan relawannya kita tidak berharap bahwa bencana alam itu terjadi, tapi kita harus tetap melakukan kesiapsiagaan karena memang secara scientific itu bisa diprediksi,” tutupnya.