Jelang Pilkada Serentak, Polisi Amankan Ratusan Blangko Dokumen Negara Palsu

oleh -

sergap TKP – SURABAYA

Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jatim akhirnya menetapkan AS (44) warga asal Blitar yang menjadi pelaku pembuat dokumen identitas palsu seperti E-KTP, akta kelahiran, paspor, sampai kartu keluarga.

Direktur Kriminal Umum Kombes Pol Pitra Andrias Ratulangi menjelaskan hasil ungkap kasus ini sendiri merupakan pengembangan dari kasus sebelumnya, dimana ditemukan puluhan stempel dengan logo sejumlah instansi dan blanko identitas kosong.

Dari situ diamankan puluhan stempel dari berbagai kabupaten di Indonesia, stempel KUA (Kantor Urusan Agama), stempel kabupaten kecamatan, blanko, akte kelahiran kosong dan kartu keluarga kosong.

Pitra mengungkapkan bahwa barang bukti yang ditemukan pihaknya tersebut sekilas memang terlihat meyakinkan dan bahkan blangko tersebut sangat mirip seperti asli dan memiliki hologram.

“Kita menemukan Kartu Keluarga kemudian kartu pencatatan sipil atau Akte Kelahiran yang masih kosong. Tapi kalau kita lihat saja secara fisik ini ada hologramnya,” jelas Pitra di Mapolda Jatim Surabaya, Jumat (21/2).

Pengungkapan yang dilakukan pihaknya ini juga sekaligus untuk mengantisipasi kecurangan yang terjadi dalam pesta demokrasi tahun 2020 yakni Pilkada serentak.

Sebab pelanggannya sendiri mencapai 500 pesanan yang juga digunakan untuk mendaftar kerja dan membuat paspor. AS menjual dokumen palsu tersebut seharga Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta.

“Tersangka selama ini sudah meraup untung kurang lebih Rp 1 Milyar selama satu tahun terakhir,” imbuh cucu pahlawan Nasional Sam Ratulangi tersebut.

Pitra juga mengingatkan pihak-pihak lain untuk tidak melakukan pemalsuan dokumen seperti yang dilakukan AS, bahkan ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak coba-coba mengunakan jasa pembuatan dokumen palsu.

Sebab, baik pembuat atau pengguna juga terancam dijerat dengan pasal 263 KUHP dan UU nomor 24 tahun 2013 pasal 94 dan 96, dengan hukuman minimal 6 tahun dan maksimal 10 tahun kurungan penjara. “Jadi baik pembuat maupun pengguna ancamannya sama-sama berat,” tegasnya