sergap TKP – TANGERANG
Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) III Jakarta Brigjen TNI (Mar) Harry Indarto, S.E., M.M. terus mengikuti dan memantau pelaksanaan pembongkaran pagar laut di dua titik, yaitu di perairan Tanjung Pasir dan perairan Kronjo, bertempat di Posko Pembongkaran Pagar Laut, Tanjung Pasir, Tangerang, Senin (27/01/2025).
Danlantamal III Jakarta di depan awak media mengatakan “TNI Angkatan Laut melalui Lantamal III Jakarta akan terus bersinergi dan bekerja sama dengan instansi maritim serta masyarakat nelayan setempat untuk melaksanakan pembongkaran pagar laut di dua titik sekaligus, yaitu di perairan Tanjung Pasir dan di perairan Kronjo. Tim gabungan yang terlibat pada pembongkaran ini sebanyak 568 personel yang terdiri dari TNI Angkatan Laut, Bakamla RI, Polair, serta masyarakat nelayan.” kata Danlantamal III Jakarta Brigjen TNI (Mar) Harry Indarto, S.E., M.M.
“Total pagar laut yang berhasil dibongkar oleh TNI Angkatan Laut berkolaborasi dengan instansi maritim serta masyarakat nelayan mencapai 18,7 kilometer yang terbagi menjadi tiga titik, yaitu di perairan Tanjung Pasir, perairan Mauk dan perairan Kronjo.” ujar Danlantamal III Jakarta.
Dengan demikian, pagar laut yang membentang sepanjang 30,16 kilometer masih tersisa 11,46 kilometer.
Selanjutnya Danlantamal III Jakarta menjelaskan “Unsur dari TNI Angkatan Laut yang digunakan dalam pembongkaran pagar laut, antara lain 2 KAL/Patkamla, 6 sea rider, 12 perahu karet, 5 RBB dan 2 RHIB, serta dibantu perahu milik para nelayan.
Kendala dan kesulitan yang dihadapi masih sama, yaitu kondisi cuaca yang berubah-ubah, angin yang kencang, arus air yang kuat, gelombang yang cukup tinggi, dan pagar bambu yang tertancap di dasar laut mencapai kedalaman 1,5 s.d. 2,5 meter serta mulai banyak keramba dan jala apung yang menghalangi manuver kapal-kapal penarik pagar bambu.
Di samping itu kedalaman air laut yang dangkal sekitar 1 meter menjadikan perahu karet mengalami kandas sehingga menyulitkan tim yang bertugas mengikat batang bambu karena menghambat pergerakannya. Jarak bambu yang semakin rapat dengan ukuran yang besar dan tertancap dalam di dasar laut menjadikan sulit untuk dicabut.







