Pengacara Sebut Nilai OTT KPK Tak Sebanding Dengan Aktifitas Sosial Bupati Novi

oleh -

sergap TKP – SURABAYA

Tis’at Afriyandi, pengacara Bupati Nganjuk Nonaktif Novi Rahman Hidayat menyebut bahwa aktifitas sosial kliennya tidak sebanding dengan nilai OTT (Operasi Tangkap Tangan) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (15/8/2021).

“Tentu nominal yang disebut OTT itu tak sebanding dengan aktivitas sosial dan latar belakang terdakwa yang juga pengusaha. Yang katanya cuma Rp 11 juta, atau Rp 15 juta, itu nilainya sangat kecil lah. Uang yang katanya disita Rp 600 juta itu juga belum mampu dibuktikan itu uang apa. Sehingga, sejauh ini kasus ini tidak ada yang nyambung,” tegasnya.

Hal tersebut diungkapkan Tis’at usai mendengar keterangan para saksi yang dihadirkan dalam persidangan kasus dugaan Korupsi yang menjerat Bupati Novi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya.

Sala satu saksi yang dihadirkan yakni Sukarsi, tukang becak yang biasa mangkal di Nganjuk, mengatakan bahwa sosok Bupati Novi merupakan orang yang baik. “Beliau orangnya baik. Sering memberikan bantuan pada kami,” ujarnya.

Hal serupa diungkapkan oleh tukang becak lainnya yakni Sarmidi yang mengaku rutin setiap tahun selama 8 tahun mendapatkan bantuan dari Novi selama yang bersangkutan menjabat sebagai Bupati Nganjuk. “Benar, kami selalu mendapatkan bantuan dari beliau. Setiap tahun selama 8 tahun ini,” akunya.

Pria yang biasa mangkal di depan Pasar Nganjuk ini mengatakan bahwa selama ini tukuang becak di Nganjuk selalu mendapatkan bantuan beras 5 Kg perbulannya dan bantuan tersebut tidak pernah absen setiap tahunnya.

Sementara itu, Staf Penyaluran Zakat PT Tunas Jaya Abadi Grup, Yoyok Yuono juga mengungkapkan bahwa Bupati Novi juga sempat menugaskan dirinya untuk membagi-bagikan zakat.

Tim dari perusahaan Bupati Novi tersebut dibentuk khusus untuk membagikan zakat untuk tiap Kecamatan. “Untuk satu Kecamatan di Nganjuk, diberikan bantuan 1 ton beras. Setidaknya, ada 20 kecamatan di Nganjuk,” terangnya.

Novi sendiri dikatakannya memiliki sejumlah usaha di berbagai lini mulai dari bidang usaha SPBU, simpan pinjam, perkebunan, koperasi, peternakan sapi dan banyak lagi lainnya. “Usaha beliau dan keluarga banyak sekali,” bebernya.

Tis’at mengatakan bahwa para saksi yang dihadirkan ini bertujuan untuk menunjukkan pada publik, bahwa apa yang dilakukan oleh Bupati Novi tidak sebanding dengan nilai OTT yang selama ini digaung-gaungkan.

Bahkan dari keterangan salah seorang saksi cukup mudah bagi Novi untuk mengambil uang sebesar Rp 1 miliar dari perusahaan miliknya. Selain itu keterangan para saksi ini juga menguatkan keterangan saksi Riana yang dihadirkan JPU pada sidang sebelumnya.

Sebelumnya saksi Riana mengungkapkan uang yang Rp 1 miliar yang diminta oleh Bupati Novi memang digunakan untuk persiapan menjelang puasa, seperti kegiatan bagi-bagi sembako, zakat, memberi bantuan pada orang tidak mampu.

“Sebagaimana keterangannya Riana, bahwa Novi minta dana itu untuk kebutuhan puasa dan lebaran,” tandasnya.