Strategi Integrasi Paham Radikalisme dan Terorisme Melalui Kurikulum Pendidikan SMA/MA di Indonesia

oleh -

Oleh Nazirwan Adji Wibowo., S.I.K., M.Si., Mahasiswa S3 TP UNESA

sergap TKP – SURABAYA

Era milinial terkait dengan perkembangan saat ini dimana tren pelaku teroris ternyata didominasi oleh kalangan anak muda atau dikalangan pelajar. Untuk memberikan pengetahuan kepada pelajar dalam rangka pencegahan terhadap masuknya paham radikalisme dan terorisme dikalangan anak muda salah satunya melalui Pendidikan yang dikemas dalam kurikulum Pendidikan pada siswa sekolah menengah, harus ada kesadaran stakeholder untuk memberikan solusi berupa alternatif kepada kaum muda untuk menangkal paham Radikalisme tersebut. Siswa khususnya dalam meradiasikan gerakan anti terorisme dan radikalisme.

Pemahaman ini penting bagi siswa, karena siswa dalam kondisi psikologisnya masih labil dalam menerima informasi. Kita tahu persis meskipun paham terorisme dan radikalisme di Indonesia ini para kelompok satu dan yang lain tidak saling cocok, tapi ada satu persamaan yaitu dalam perjuangan mengganti ideologi Pancasila dengan Ideologi lain. Salah satu contoh yang telah dibubarkan adalah Hizbut Tahir Indonesia (HTI) karena ingin mengganti Pancasila dengan Ideologi Khilafah Islamiyah,” terorisme pada dasarnya bisa melekat pada ideologi mana saja, pengikut agama apa saja, dan siapa saja.

Terorisme bisa melekat di kelompok radikalisme, juga bisa melekat di kelompok ekstremis, juga di kelompok sparatis. “Pada gerakan terorisme agama, faktor penyebaran pahamnya mudah karena ada persoalan psikologis, politik, ekonomi bahkan sosial yang dibalut dengan doktrin agama. Langkah pencegahan bisa dilakukan dengan mendorong anak muda ini untuk menambah pengetahuan dan literasi, berpikir dan bersikap kritis terhadap informasi yang diterima, menumbuhkan rasa empati terhadap sosial, dan memahami eksistensi diri,”. Paham radikalisme dan terorisme jika dikemas dalam kurikulum Pendidikan tingkat SMA/MA menjadi salah satu isu yang layak untuk diajarkan pada tingkat satuan Pendidikan.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang membutuhkan keberagaman dalam berbagai hal, seperti suku, bahasa, tradisi budaya, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keberagaman ini sebenarnya merupakan kekayaan nasional yang dimiliki Indonesia sebagai bangsa dan negara. Keberagaman dan kemajemukan menjadi alasan dasar yang merangsang pemikiran substansial tentang Indonesia yang beragam, yang kemudian diikat menjadi konsensus nasional (Marsaulina, 2021). Walaupun Indonesia memiliki berbagai perbedaan, namun kesadaran sebagai satu negara, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia tetap ada. Oleh karena itu, Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila dan menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika.

Dewasa ini kemajuan bangsa terkait dengan pemberantasan paham radikalisme dan terorisme tergantung kepada sumber daya manusia yang ada dalam hal ini satuan Pendidikan dalam hal ini dinas Pendidikan. Proses pendidikan dapat berjalan secara baik dan berhasil, manakala sistem pembelajaran yang diaplikasikan menunjang tercapainya tujuan pendidikan yang baik dan pelaksanaan pembentukan karakteristik peserta didik itu sendiri, tolok ukur keberhasilan pendidikan tergantung strategi pembelajaran yaitu merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi.

Strategi memberikan pemahaman terkait dengan bahaya radikalisme dan terorisme tidak semudah yang digaungkan oleh pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan munculnya kelompok-kelompok baru yang terorganisir dan dilakukan berbagai cara yang dikemas dalam satu organisasi yang legal maupun illegal. Maraknya tindak pidana terorisme yang terjadi akhir-akhir ini jelas membuat masyarakat merasa resah. Secara mudah, terorisme dapat dimaknai sebagai serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat.

Sebagian besar para teroris biasanya menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan tertentu yang telah mereka rencanakan, misalnya politik, mereka sudah terpapar dengan radikalisme. Radikalisme memiliki arti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau dengan sikap yang ekstrem.

Untuk menanggulangi hal tersebut pemerintah mengeluarkan undang-undang terkait dengan terorisme (Lembaga, 2018) yaitu tindak pidana terorisme yang selama ini terjadi di Indonesia merupakan kejahatan yang serius yang membahayakan ideologi negara, keamanan negara, kedaulatan negara, nilai kemanusiaan, dan berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta bersifat lintas negara, terorganisasi, dan mempunyai jaringan luas serta memiliki tujuan tertentu sehingga pemberantasannya perlu dilakukan secara khusus, terencana, terarah, terpadu, dan berkesinambungan, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyelenggarakan beberapa program, salah satunya yaitu deradikalisasi. Deradikalisasi adalah sebuah program yang bertujuan untuk menetralkan pemikiran-pemikiran bagi mereka yang sudah terkapar dengan radikalisme. Yang menjadi sasarannya yaitu para teroris yang ada di dalam lapas maupun di luar lapas (Isnawan, 2018).

Terkait dengan hal tersebut untuk memutus mata rantai paham radikalisme dan terorisme, salah satunya melalui Pendidikan pada tingkat sekolah menengah yang dikemas dalam kurikulum pendidikan. Pendidikan merupakan senjata yang paling ampuh dalam memutus mata rantai paham radikalisme dan terorisme jika dikemas pada kurikulum Pendidikan yang efektif dan efisien. Hal ini tertuang dalam undang-undang tahun 2003 pasal 1 ayat 1 bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat, bangsa dan negara (Depdiknas, 2003).

Namun hal ini tidak menjadi habantan bagi penulis untuk melakukan strategi dalam mengurangi tindaan paham radikalisme dan terorisme melalui Pendidikan tingkat sekolah menengah atas sederajat dan madarasah Aliyah. Strategi ini merupakan salah satu solusi berupa alternatif   untuk menangkal paham radikalisme dan terorisme. Hasil penelitian Asroni, (2021) bahwa pentingnya penyelenggaraan pendidikan agama multikultural. Ini dapat digunakan sebagai instrumen dan media yang efektif untuk mengurangi radikalisme agama dan terorisme di Indonesia. Pendidikan agama multikultural memberikan ruang yang sama bagi tumbuhnya perbedaan dan keragaman agama. Melalui pendidikan agama multikultural, peserta didik diharapkan memiliki komitmen yang tinggi terhadap agamanya sekaligus memiliki sikap toleransi dan apresiasi terhadap agama lain. Dengan pendidikan agama multikultural diharapkan siswa memiliki rasa pluralitas.

Hal itu hanya akan berhasil jika diajarkan oleh pendidik yang memiliki kesadaran multikultural. Selain itu, kurikulum, materi, metode, dan evaluasi pembelajaran pendidikan agama multikultural juga harus memuat dan selaras dengan nilai-nilai multikultural.Hal ini menjadikan temuan bahwa inovasi model aplikasi dapat digunakan secara luas dalam pengajaran aktual. Sistem website merupakan bagian integral dari komponen elektronik modern. Kehadiran website dan VR dalam Pendidikan tingkat SMA/MA adalah bentuk simulasi dunia nyata.

Terdapat kesenjangan antara tujuan Pendidikan dengan perubahan perilaku peserta didik yang menggambarkan kemajuan teknologi terhadap nilai-nilai karakter budaya bangsa sebagai tujuan utama pendidikan Indonesia. Partisipasi dalam proses pembelajaran yang mengedepankan nilai Pancasila dengan mengedepankan nilai luhur budaya bangsa yang dikemas dalam bhineka tunggal ika merupakan tujuan Pendidikan di indonesia dimana guru sebagai fasilitator dan model. Berdasarkan hasil observasi penulis sekaligus sebagai pelaku dalam menangani paham radikalisme dan terorise melalui kajian literatur terdapat beberapa hasil penelitian terkait dengan hal tersebut yaitu: (1) penelitian yang dilakukan oleh (Prasetya, 2021) Secara historis, Indonesia memiliki hubungan yang erat dengan keberadaan kelompok teror. Kemudian penelitian ini memberikan alternatif kontra-terorisme di Indonesia yaitu pemberatasan terorisme. Indonesia memiliki sejarah panjang aksi teror, mulai tahun 40-an hingga sekarang. Peraturan No. 5 Tahun 2018 menjadi salah satu poin dimana Indonesia memulai program pendekatan humanisme. Pendekatan yang dilakukan adalah deradikalisasi yang memicu banyak reaksi di kalangan masyarakat atau sasaran.

Pemberantasan terorisme memberi warna baru pada program keluar dari kelompok teror. Ketika ahli dan akademisi terjebak dalam konsep deradikalisasi atau disengagement, penghentian terorisme muncul dengan membawa pendekatan dan konsep yang berbeda. Kemudian hasil penelitian Dian & Candra, (2017) bahwa Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa pengaruh besar terhadap dinamika perubahan serangan terorisme. Salah satunya adalah sebagai panggung propaganda. Sebagai negara yang sedang berkembang, jumlah pengguna internet di Indonesia ternyata sudah mencapai 132,7 juta pengguna internet. Hal ini tentu memberikan peluang bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda sebagai sarana rekrutmen. Untuk menghadapi hal tersebut maka diperlukan peran pemerintah dan juga masyarakat. media literasi menjadi solusi untuk meningkatkan pertahanan diri masyarakat terhadap terpaan propaganda radikalisme dan terorisme melalui media internet.

Menurut laporan yang dikeluarkan oleh International Crisis Group (IGC) untuk memahami masalah terorisme di Indonesia, perlu diketahui munculnya Gerakan Darul Islam (DI) dan upaya mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Gerakan NII telah menghasilkan berbagai pecahan dan sempalan, mulai dari Jamaah Islamiyah (JI) hingga kelompok agama yang menolak kekerasan. Setiap kali generasi tua menghilang, muncul generasi baru militan yang menerima kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), yang menjadi bukti bahwa gerakan militan baru lahir kembali dan menjadi penerus inspirasi pembentukan NII (Prasetya, 2021).

Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan bahwa Pendidikan tingkat SMA/MA selalu mengalami perkembangan dilihat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru sebagai fasilitator sekaligus model harus mempersiapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan penjas dengan tetap memperhatikan pertumbuhan perkembangan peserta didik. Aktifitas fisik dalam penjas harus tetap dilakukan untuk mencapai kebugaran. Rangkuman cara yang sesuai untuk memperoleh formulasi yang efektif dan efisien melalui strategi integrasi paham radikalisme dan terorisme melalui kurikulum pendidikan SMU/MA di Indonesia.

METODE

            Literature review yang digunakan dalam mengkaji hasil penelitian ini dengan menggunakan data base pencarian google scholar, eric journal, springer.id dengan kata kunci radikalisme, terorisme, kurikulum Pendidikan tingkat SMA/MA dalam Pendidikan di Indonesia

Artikel yang dianalisis adalah terbitan tahun 2017 sampai dengan 2021 dengan menggunakan kriteria khusus sebagai berikut: terindeks scopus Q1, Q2, Q3, dan Q4. Kemudian artikel nasional terindeks sinta 1, sinta 2, sinta 3, dan sinta 4. Metode deskriptif dengan populasi, sampel, adalah peserta didik tingkat Sekolah Menengah Atas dan Madarasah Aliyah.

HASIL

Kajian Axiology terkait dengan literatur review dengan judul Strategi Integrasi Paham Radikalisme Dan Terorisme Melalui Kurikulum Pendidikan Smu/Ma Di Indonesia. Adapun kajian literatur review ditinjaudari segi Ontology tentang Analisis kebutuhan, strategi integrasi dalam satuan Pendidikan pada kurikulum pendidikan tingkat SMA/MA terkait dengan isu pemahaman bahaya radikalisme dan terorisme memerlukan kecermatan, ketepatan, kesesuaian (analisis), mengajar menarik peserta didik (kreativitas), memerlukan terobosan/ hal yang baru karena perkembangan iptek/ zaman (inovatif), guru harus mampu menjadi model (demonstratif), bagaimana peserta didik menjadi (aktif) dalam kegiatan belajar mengajar, mengajar harus memanusiakan manusia (humanis) memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.

EPISTEMOLOGY: Berdasarkan hasil review artikel yang telah dilakukan, maka dapat dikemukakan sebagai berikut.

  1. Hasil penelitian Widya et al. (2020) judul penelitiannya yaitu the involvement of ex-terrorist inmates and combatants in the disengagement from violence strategy in Indonesia. Dalam penelitian ini dikemukakan bahwa fenomena munculnya komunitas baru di jalan perdamaian yang dibentuk oleh para mantan napiter dan kombatan merupakan hal yang sangat bagus untuk wadah baru bagi para mantan napiter dan kombatan lainnya yang ingin disengage. Namun fenomena tersebut harus terus dibimbing, diawasi dan dikawal oleh Pemerintah agar sesuai dengan tujuan dari deradikalisasi dan strategi kontra terorisme di Indonesia.
  2. Hasil penelitian Isnanto, (2018) judul penelitian “Berbagai Masalah Dan Tantangan Radikalisasi Dan Deradikalisasi Terorisme Di Indonesia”. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa bahwa radikalisasi dan deradikalisasi terorisme adalah istilah yang tidak mememiliki definisi yang solid. Definisi istilah tersebut sangat dipengaruhi secara kuat oleh konteks dan kepentingan orang, kelompok atau organisasi yang mendefinisikannya.Radikalisasi di Indonesia bukan sebuah proses yang sederhana, tetapi merupakan proses yang panjang dan rumit melalui berbagai jalan dan metode, begitupula deradikaliasi teroris adalah proses yang sulit karena menyangkut masalah ideologi keagamaan. Namun demikian, deradikalisasi teroris tetap diperlukan karena jika ideologi mereka berubah  menjadi tidak radikal maka mereka akan secara permanen meninggalkan idelogi radikalnya.
  3. Hasil penelitian Sukarwo, (2021) judul penelitian “ Berbagai Masalah Dan Tantangan Radikalisasi Dan Deradikalisasi Terorisme Di Indonesia”. Hasil Penelitian ini dikemukakan tantangan faktual terkait aktualisasi Pancasila dalam bentuk rivalitas kelompok nasionalis religius dan sekular dalam konteks politik praktis di Indonesia. Rivalitas tersebut memiliki akar yang kuat pada dualisme penafsiran Pancasila itu sendiri serta bisa menjadi awal dari radikalisme yang mengancam integrasi bangsa.
  4. Hasil penelitian Ismira & Tennang, (2019) arikle ini mengkaji tentang apa faktor pendorong aksi radikalisme yang telah terjadi di Xinjiang sejak berabad-abad lalu, sehingga Radikalisme ini telah menyeret pemerintah China untuk menempatkan Kebijakannya di atas panggung dan sepertinya tidak akan diturunkan. Dengan menggunakan metode Deskriptif Analityc, artikel ini menganalisis situasi Uyghur dan Xinjiang dengan konsep geo-politik, ketimpangan pembangunan dan keamanan manusia.
  5. Hasil penelitian Hamdi, (2017) judul artikel ini terkait dengan Integrasi Umat, Kemiskinan, Dan Radikalisme Dalam Jamaah Tabligh Di Indonesia. Hasil penelitian ini mengemukakan upaya Tabligh untuk mengintegrasikan umat dalam praktik dakwah mereka. Dakwah Tabligh tidak hanya melakukan ritual dan penyembahan, tetapi juga misi kemanusiaan dan sosial untuk memperkuat pembangunan perdamaian, kesetaraan dan keselarasan bagi semua. Pola dakwah Tabligh yang mengharuskan semua anggota untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain khuruj fi sabilillah untuk jangka panjang memiliki dampak besar terhadap stabilitas ekonomi yang dapat memiskinkan mereka dan keluarga telah membawa pertanyaan spesifik bagaimana mereka memahami kemiskinan, seberapa jauh mereka sadar dan bagaimana mereka mengatasi masalah ini. Sementara itu dalam konteks global Tabligh telah diduga sebagai bagian dari jaringan kelompok teroris internasional. Oleh karena itu artikel ini juga menjelaskan keterlibatan Tabligh Indonesia dalam kegiatan radikalisme dan terorisme, dan jaringannya ke kelompok teroris global.
  6. Hasil penelitian Komariah, (2020) judul penelitian “Radicalization: The Misconception of Religious Practices in Diversity”. Pada penelitian ini dikemukakan Keberagaman merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun, keberagaman yang sejatinya dilandasi dengan perbedaan seharusnya di tanggapi dengan sikap toleransi dan memandang bahwa segala perbedaan merupakan fitrah kehidupan. Namun, segelintir orang yang mengatasnamakan agama justru memandang keberagaman tersebut sebagai ancaman yang sangat kontra dengan pandanganpandangan mereka sehingga dengan frontal berani untuk menyerukan perang terhadap perbedaan tersebut. Keberagaman dan keberagamaan merupakan suatu konsep yang bukan hanya peduli kepada sesama umat manusia tetapi juga menghargai dan melindungi apa yang telah diciptakan tuhan sebagai bentuk dari ketaatan. Melihat dari beberapa kelompok radikal yang mengatasnamakan agama dan melakukan tindakantindakan ekstreem tersebut artikel ini berusaha mengungkap bagaimana pandangan ormas Islam dalam menyikapi permasalahan tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan tekhnik fenomenologi, yang dilakukan melalui wawancara mendalam kepada 5 narasumber dengan latar belakang pengurus ormas tersebut, didapatkan bawah terdapat tiga fase seseorang berprilaku radikal tersebut. Namun dalam artikel ini lebih menekankan kepada fase pertama yaitu sensitifitas, karena fase ini dipandang sebagai gerbang terbentuknya faham radikalisme dalam diri seseorang. Implikasi yang diharapkan, dapat terbentuknya kesadaran sosial bahwa radikalisme sejatinya dapat dicegah sedari awal, dengan pendekatan dan cara yang tepat, seperti yang digambarkan dalam artikel ini
  7. Hasil penelitian Widya et al., (2020) judul artikel “The Involvement Of Ex-Terrorist Inmates and Combatants In The Disengagement From Violence Strategy In Indonesia”. Hasil penelitian ini mengemukakan fenomena munculnya komunitas baru di jalan perdamaian yang dibentuk oleh para mantan napiter dan kombatan merupakan hal yang sangat bagus untuk wadah baru bagi para mantan napiter dan kombatan lainnya yang ingin disengage. Namun fenomena tersebut harus terus dibimbing, diawasi dan dikawal oleh Pemerintah agar sesuai dengan tujuan dari deradikalisasi dan strategi kontra terorisme di Indonesia.
  8. Hasil penelitian Pebrianti, (2020) Judul penelitian “ Penyebaran Paham Radikal dan Terorisme dalam Media Internet”. Hasil penelitian ini mengemukakan Era informasi dan digital saat ini berperan besar dalam kehidupan manusia. Perkembangan dan kemudahan teknologi yang semakin cepat dan mudah untuk di akses sangat membantu dan mempermudah manusia dalam mencari informasi dan saling berkomunikasi. Kemudahan mengakses, mencari dan menyebarkan informasi tentu dapat mempengaruhi aspek-aspek dalam hidup manusia. Tidak jarang, kecanggihan era informasi dan digital memunculkan berbagai berbagai macam permasalahan yang memiliki dampak besar. Artikel ini merangkum dan memahami dampak yang dapat di timbulkan oleh media internet dalam penyebaran ideologi bermuatan terorisme. Selanjutnya menganalisis langkah pemblokiran yang telah dilakukan pemerintah Indonesia dengan tujuan untuk mengurangi penyebaran paham radikal dan terorisme melalui internet di Indonesia. Era informasi dan digital harus menjadi perhatian, karena akan banyak dampak yang timbul oleh kecanggihan teknologi mengingat media internet bisa dengan mudah dan cepat di akses oleh semua kalangan.

PEMBAHASAN

Secara garis besar dari beberapa artikel yang dianalisis menggunakan metode penelitian deskriptif dengan terkait dengan strategi integrasi paham radikalisme dan terorisme melalui kurikulum pendidikan SMU/MA di Indonesia. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi: integrasi paham radikalisme dan terorisme melalui kurikulum Pendidikan SMU/MA.

Artikel yang menunjukkan hasil penelitian yang berhubungan dengan metode paham radikalisme dan terorisme sangat menarik untuk dikaji dan diberikan solusi berupa alternatif. Perkembangan radikalisme sekarang ini cukup menyita perhatian, baik secara nasional maupun internasional. Fenomena tersebut muncul karena ketidakpuasan terhadap kondisi politik, sosial, ekonomi dan agama. Radikalisme adalah sebutan bagi kelompok yang menuntut sebuah reformasi secara radikal. Pada dasarnya radikalisme bisa mengacu pada hal tertentu tergantung konteks atau peristiwa yang terjadi. Orang yang dikatakan radikal adalah mereka yang menginginkan perubahan terhadap situasi yang ada dengan menjebol sampai ke akar-akarnya, menyukai dari berbagai macam aturan yang ditetapkan oleh pemerintah dan yang dituangkan dalam undang-undang radikalisme. Slain radikalisme di kehidupan nyata, radikalisme juga beraksi di dunia maya menyerukan paham atau alirannya.

Perubahan karena perkembangan teknologi yang terjadi cukup cepat secara tidak sadar maupun sadar telah mengubah beberapa pola hidup masyarakat. Di Indonesia khususnya, peranan media massa, teknologi, serta sosial media memegang kendali yang cukup tinggi. Hal tersebut dapat dengan mudah dan relatif cepat untuk mempengaruhi dan mengubah perilaku seseorang. Teknologi internet yang banyak mempermudah manusia dalam mencari sumber informasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Melalui sarana-sarana yang ada dalam internet kita dapat memperoleh informasi dengan mudah, praktis dan cepat. Sehingga Indonesia termasuk rentan terpengaruh sasaran dan ajakan tindakan terorisme terungkap dari  adanya keterkaitan jaringan militan lokal dengan jaringan internasional. Aksi terorisme yang kerapkali terjadi di Indonesia tidak hanya meresahkan masyarakat, namun juga merusak kestabilan dan keamanan suatu negara, yang tentu akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Banyaknya aksi teror yang terjadi di Indonesia tersebut, menandakan Indonesia harus tetap siaga, agar masyarakat tidak mudah terjerumus untuk melakukan aksi tersebut.

Pendekatan analisis menggambarkan cara berfikir konstruktif terhadap suatu masalah, cara berfikir kritis menghasilkan jawaban cara bagaimana, seperti apa, dan kenapa pendekatan ini dilakukan. Tujuan analisis tentu saja untuk menjawab tujuan strategi menangkal terorisme dan radikalisme melalui pendidikan dalam bentuk aktifitas berfikir, aktifitas kinerja, maupun aktifitas berperilaku. Guru Kreatif memiliki potensi keberhasilan dalam partisipatif peserta didik. Selain itu dijelaskan bahwa kreatifitas merupakan indicator adanya pencarian informasi sebebas-bebasnya pada era modern sekarang ini. Peluang kreatifitas juga dapat meningkatkan pemahaman terkait dengan bahaya radikalisme dan terorisme, seperti tiga tema yaitu; guru kreatif, guru harus kreatif, pembelajaran kreatif dalam memberikan pengajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Inovasi penting dalam membentuk system pengembangan di Pendidikan tingkat SMA/MA. Era digital menjadikan komunikasi dan informasi yang cepat sebagai peluang adanya hal baru dalam pendekatan Pendidikan tingkat SMA/MA. Sebagai contoh inovasi dalam pembelajaran Pendidikan tingkat SMA/MA adalah adanya penerapan perangkat computer, jaringan website, media digital sebagai pengawasan, bahkan menciptakan game dalam pendidikan sebagai upaya Kesehatan mental, promosi aktifitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan. Pendekatan demonstrative penting karena merupakan konsep memahami pembelajaran dan pengajaran secara praktis dalam Pendidikan tingkat SMA/MA. Siswa memiliki peran dalam unjuk kerja secara nyata dalam pembelajaran untuk memonitoring kompetensi yang dimiliki. Pendekatan demonstrative cenderung dikendalikan untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Pemahaman dan instruksi menjadi kunci utama tersampainya bentuk visual dari demonstrasi.

Partisipasi siswa untuk aktif dalam penjas adalah upaya menangkal radikalisme dan terorisme yang dikemas dalam pembelajaran melalui peran orang tua dan guru. Pengetahuan dan ketrampilan memberikan gambaran Pendidikan tingkat SMA/MA untuk guru mengambil peran dalam pembelajaran di sekolah. Guru sebagai model sekaligus fasilitator perilaku aktif disekolah yang dapat dilihat dan mendesain konsep aktivitas fisik di sekolah.

Humanis dalam aktifitas fisik dan Pendidikan tingkat SMA/MA mencakup aspek penting meliputi variable motivasi, kognitif, dan emosional. Satu indicator penting dapat kita ambil yaitu peduli, karena kepedulian mengarah kepada interaksi kognitif, sehingga cocok diaplikasikan dalam Pendidikan tingkat SMA/MA. Sebagai guru penting menghargai pentingnya kepedulian dengan peserta didik dan antar peserta didik. Menariknya adalah kepedulian dapat menciptakan kenikmatan yang lebih besar dibanding rasa kebosanan dan malu dalam keterlibatan aktivitas Pendidikan tingkat SMA/MA. Aspek individu sebagai refleksi untuk membina hubungan baik, selain itu pengetahuan pada tingkat sosial, kelompok, dan pribadi. Guru harus mampu menerapkan strategi peduli, perencanaan, dan Tindakan di mulai dari hal-hal yang kecil dalam pembelajaran.

Salah satu kebaharuan penelitian ini tentang Strategi Integrasi Paham Radikalisme Dan Terorisme Melalui Kurikulum Pendidikan SMA/MA di Indonesia melalui peran orang tua dan guru serta stakeholder terkait dapat dilihat pada table di bawah ini:

Table 1 Analisis aspek peran guru dan orangtua serta stakeholder terkait

Indikator Tema Peran
Guru dan orangtua, stakeholder sebagai pendamping Kepekaan guru dan orangtua Mengetahui hal yang diindikasikan dengan paham radikalisme dan terorisme terkait dengan informasi yang diintruksikan
Treatment –      Pendampingan pembelajaran secara universal sesuai dengan kebutuhan

–      Memberikan perlakuan khusus berupa perhatian, pendampingan, dan waktu yang lebih

–      Memberikan instruksi yang berulang dan reward ketika peserta didik mau mengikuti instruksi dengan memberikan tanggapan terkait dengan bahaya terorisme dan radikalisme

Solusi Melibatkan orang tua dan guru lain serta stakeholder pada kondisi tertentu
Guru dan orangtua sebagai Mediator Penggunaan media Menggunakan berbagai macam media tergantung dengan kondisi dan kebutuhan
Treatment Memberikan keleluasaan berfikir kritis kepada siswa dan diberikan solusi berupa alternatif terkait dengan bahaya paham radikalisme dan terorisme
Solusi Mengikuti alur yang disukai anak, sehingga anak menjadi merasa nyaman
Guru dan orangtua Motivator dan Inspirator Pendekatan Merangsang dengan menggunakan media pembelajaran yyang menarik
Treatment Membangkitkan semangat belajar anak dengan memupuk kedekatan antara guru dan anak
Solusi Menjaga semangat belajar anak dengan memberikan reward atau hadiah kecil

SIMPULAN

Strategi Integrasi Paham Radikalisme Dan Terorisme Melalui Kurikulum Pendidikan SMA/MA di Indonesia melalui pendekatan AKIDAH (Analisis, Kreatif, Inovatif, Demonstratif, Aktif, dan Humanis) merupakan salah satu cara mengajar dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan jaman dengan memperhatikan prinsip humanis dengan indikator kepedulian.

DAFTAR PUSTAKA

Asroni, A. (2021). RELIGIOUS EDUCATION AMID THE CHALLENGES OF RELIGIOUS RADICALISM. Khulasah : Islamic Studies Journal, 3(1), 1–15.

Depdiknas. (2003). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS dan Peraturan Pemerintah RI Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Wajib Belajar. Citra Umbara.

Dian, B., & Candra, A. (2017). Media literasi dalam kontra propaganda radikalisme dan terorisme melalui media internet literacy media in the counter of radicalism propaganda and terrorism through internet media. Jurnal Prodi Perang Asimetris, 3(1), 15–31.

Hamdi, S. (2017). Integrasi Umat, Kemiskinan, Dan Radikalisme Dalam Jamaah Tabligh Di Indonesia. Review Politik, 07(01), 26–54.

Ismira, A., & Tennang, A. A. (2019). XINJIANG HUMAN RIGHT VIOLATION AND RADICALISM ISSUES : A DEVELOPMENT INEQUALITY FRAMING. Jurnal Hubungan Internasional, 2(1), 22–44.

Isnanto, S. H. (2018). Berbagai Masalah Dan Tantangan Radikalisasi Dan Deradikalisasi Terorisme Di Indonesia. Jurnal Pertahanan & Bela Negara, 5(2), 225–244. https://doi.org/10.33172/jpbh.v5i2.366

Isnawan, F. (2018). Program Deradikalisasi Radikalisme dan Terorisme Melalui Nilai–Nilai Luhur Pancasila. Fikri, 3(1), 1–28. https://doi.org/http://doi.org/10.25217/jf.v3i1. P-ISSN:2527-4430. E-ISSN: 2548-7620

Komariah, S. (2020). Radicalization: The Misconception of Religious Practices in Diversity. The Journal of Society and Media, 4(1), 49. https://doi.org/10.26740/jsm.v4n1.p49-65

Lembaga, N. R. I. (2018). Undang-Undang Republik Indonesia No 5 Tahun 2018 tentang: Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undan. Lembaga Negara Republik Indonesia, No. 92.2018, 1–29. https://www.kemhan.go.id/itjen/wp-content/uploads/2018/10/uu5-2018bt.pdf

Marsaulina, R. (2021). Radicalism in Political Perspective and Peace Education. International Journal of Science and Society, 3(2), 269–275. http://ijsoc.goacademica.com

Pebrianti, A. (2020). Penyebaran Paham Radikal dan Terorisme dalam Media Internet. Jurnal Sosiologi, 3(2), 73–80. https://e-journal.upr.ac.id/index.php/JSOS/article/view/1051/2186

Prasetya, A. P. (2021). Desistance From Terrorism a New Hope for the Quit from Terrorism Program Indonesia. International Journal of Social Science and Human Research, 04(10), 3056–3062. https://doi.org/10.47191/ijsshr/v4-i10-53

Sukarwo, W. (2021). Disintegrasi Dan Radikalisme : Tantangan Aktualisasi Pancasila di Tengah Rivalitas Nasionalisme Sekular dan Religius. Jagaddita: Jurnal Kebhinekaan Dan Wawasan Kebangsaan Pusat Kajian Pancasila UNINDRA PGRI, 1(1), 40–53. https://journal.unindra.ac.id/index.php/jagaddhita

Widya, B., Syauqillah, M., & Yunanto, S. (2020). THE INVOLVEMENT OF EX-TERRORIST INMATES AND COMBATANTS IN THE DISENGAGEMENT FROM VIOLENCE STRATEGY IN INDONESIA. Journal of Terrorism Studies, 2(2). https://doi.org/10.7454/jts.v2i2.1022